Klimaks Keresahan Masyarakat Pada Iklan Perusak Mental dan Moral Anak Bangsa

 


JAKARTA, - ||

Pernahkah Anda menghitung berapa banyak iklan yang muncul dalam satu program tivi yang Anda tonton? 


Jika pernah, apakah frekuensinya jatuh di angka 20, 30, atau hingga 40? Kalikan saja bilangan yang muncul tersebut dalam 30 detik. Maka kita akan menemukan angka yang cukup fantastis 600 detik sampai lebih dari 1200 detik (10 sampai lebih dari 20 menit). 


Asumsinya program yang Anda tonton berdurasi 30-60 menit, maka iklan yang hadir akan memakan waktu menonton Anda rata-rata antara 30-40% dari total program yang Anda saksikan! Tentu ini bukan cara menikmati hiburan yang menyenangkan.


Mengapa demikian? Banyaknya iklan membuat kenyamanan kita saat menonton program-program televisi, baik berupa siaran berita/informasi, pendidikan dan juga hiburan, terganggu oleh seringnya interupsi iklan. Mulai dari iklan sabun mandi, pasta gigi, krim pencerah kulit, kudapan, susu, layanan bank, kartu telepon seluler, dan lain sebagainya. 


Kondisi ini, kian hari kian masif di layar kaca kita akhir-akhir ini. Terutama jika kita berbicara televisi swasta yang bersiaran dari Jakarta.

Keberadaan televisi swasta di tanah air memang tidak terlepas dari persaingan yang ketat untuk mendapatkan iklan. 


Hal ini karena iklan merupakan urat nadi dari kehidupan dan berkembangnya lembaga penyiaran swasta seperti televisi. Sebagai perusahaan yang bermodal padat, hampir dapat dipastikan televisi sangat bergantung pada masukan dari iklan. 


Demikian, kutipan dari tulisan di laman Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait adanya teguran tertulis program iklan kondom sutra Indosiar baru-baru ini.


Namun tahukah anda, hal mengkhawatirkan dan akan menjadi masalah bagi moral anak-anak kita plus kita sebagai penontonnya? Terutama sajian iklan yang di buat tanpa pertimbangan moral, alias semaunya pembuat iklan atau bisa jadi sang pembuat memegang misi titipan, yakni; 'penghancuran moral dan mental Anak-anak'.


Contoh iklan-iklan yang disebut penghancur dan perusak itu sudah banyak mengisi layar tivi dan sesungguhnya sangat meresahkan para orang tua. Salah satu contohnya adalah; iklan kondom dan iklan mie yang pelakonnya Nazar KDI.



Hasil temuan yang didapatkan bahwa iklan "Sutra Gerigi - Bikin Nagih” menggunakan male gaze dan menampilkan perempuan sebagai objek pemuas. 


Eksploitasi seksualitas terlihat jelas pada iklan "Sutra Gerigi - Bikin Nagih" dan ditandai dengan narasi dan adegan seperti pakaian terbuka, membelai leher untuk menggoda, suara desahan, dan lain-lain. 


Tentunya diharapkan kepada instansi terkait, agar segera merespon sehingga keresahan masyarakat jangan sampai berkembang menjadi sebuah ketidakpercayaan publik pada lembaga-lembaga pemerintah yang bertanggungjawab atas hal tersebut.


Pasalnya, di obrolan warung kopi seorang bapak menyampaikan kegelisahan akan dampak dari iklan dimaksud dengan menuliskan kata-kata seperti dibawah ini;


"Hei.. pengusaha televisi, setop penyiaran iklan yang merusak mental dan moral anak-anak kami itu bajingan tengik !" makinya. 


Tentu saja hal itu tidak boleh dibilang remeh, karena Komisi Penyiaran Indonesia pun sudah menerima teguran tertulis terkait program iklan busuk perusak mental dan moral anak-anak tersebut. (®)

Lebih baru Lebih lama