Manado —||
Rencana semula yang menempatkan Manado sebagai tuan rumah Perayaan Natal Nasional 2024 harus berubah arah. Berdasarkan informasi terbaru dari Panitia Nasional, perayaan ini akan digelar di Jakarta pada 28 Desember 2024. Kepastian ini disampaikan Ketua Umum Panitia Natal Nasional, Thomas Djiwandono, dalam audiensi dengan Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI) di Grha Oikoumene, Jakarta, Jumat (6/12/2024).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sulawesi Utara, Steven Liow, mengonfirmasi pembatalan tersebut. “Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi tuan rumah. Namun, mungkin ada berbagai pertimbangan dari panitia pusat sehingga perayaan Natal Nasional dipindahkan ke Jakarta,” ujar Liow, Minggu (8/12/2024).
Liow menegaskan bahwa Sulut tetap mendukung penuh pelaksanaan perayaan ini, meskipun tidak lagi menjadi lokasi penyelenggaraan. “Semangat Natal yang membawa damai tetap kami rayakan di Sulut, walau perayaan tingkat nasional tidak digelar di sini,” tambahnya.
Perayaan Natal Nasional tahun ini mengusung tema “Kembali ke Betlehem”, sebuah refleksi atas nilai-nilai kasih, damai, keadilan, dan kesederhanaan. Menurut Thomas Djiwandono, tema ini diimplementasikan dengan semangat bakti sosial, kemanusiaan, dan kepedulian ekologis, yang terinspirasi oleh pesan Paus Fransiskus.
Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, menekankan pentingnya perayaan ini sebagai momentum persatuan umat Kristen di Indonesia. “Kehadiran Kristus membawa damai tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh ciptaan. Perayaan ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk berjalan bersama dalam harmoni dan persatuan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi tradisi Natal Nasional yang melibatkan Katolik dan Protestan secara bergantian. “Ini adalah simbol kesatuan yang patut terus dirawat. Tema Natal selalu mengacu pada panduan PGI dan KWI, mencerminkan kebersamaan kita,” tambahnya.
Salah satu poin penting dalam audiensi tersebut adalah harapan agar perayaan Natal Nasional mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. “Ornamen dan simbol Natal hendaknya menggunakan budaya Nusantara, bukan meniru budaya Barat. Ini cara kita menunjukkan kekayaan warisan bangsa dalam merayakan kelahiran Sang Juru Selamat,” tegas Pdt. Gomar.
Hal ini mendapat dukungan dari Ketua Umum PGI terpilih, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, yang berharap perayaan ini menjadi momen rekonsiliasi bagi bangsa. “Natal tidak hanya membawa damai bagi umat Kristen, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Semangat ini harus terus kita gelorakan,” ujarnya.
Thomas Djiwandono, yang juga Wakil Menteri Keuangan RI, mengapresiasi semua masukan dari PGI. “Ini masukan yang luar biasa. Kami akan coba merumuskan acara yang sejalan dengan tema besar Natal tahun ini, termasuk menonjolkan unsur budaya Nusantara,” ungkapnya.
Djiwandono juga melaporkan bahwa persiapan di Jakarta telah berjalan dengan baik. “Kami ingin memastikan bahwa perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga membawa manfaat nyata melalui berbagai kegiatan sosial dan ekologis,” tambahnya.
Meskipun batal menjadi tuan rumah, Sulut tetap berkomitmen memeriahkan Natal dengan semangat damai dan persaudaraan. Pemerintah daerah dan masyarakat Sulut diharapkan dapat menjadikan Natal sebagai momen refleksi, tidak hanya untuk merayakan kelahiran Kristus, tetapi juga untuk mempererat persatuan dan keselarasan dengan alam semesta.
Dengan tema besar yang diangkat tahun ini, semangat “Kembali ke Betlehem” bukan hanya menjadi panggilan bagi Jakarta sebagai tuan rumah, tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.
(Red)

