Bekasi –||
Komunitas jurnalis dan insan media di Bekasi kembali menegaskan sikap tegas dalam menjaga marwah profesi dan peran strategis pers dalam kehidupan demokrasi. Dalam pernyataan bersama yang dirumuskan sejumlah organisasi dan wartawan senior, disuarakan lima poin penting sebagai sikap bersama dalam menghadapi berbagai tantangan yang kini dihadapi dunia jurnalistik, baik dari dalam maupun luar profesi.
1. Pers Adalah Pilar Demokrasi, Bukan Pelengkap Seremoni
Para jurnalis menegaskan bahwa media massa adalah pilar keempat demokrasi, bukan sekadar pelengkap atau penggembira agenda formal pemerintah. "Wartawan bukan buzzer, dan media bukan alat promosi," tegas pernyataan tersebut.
Tanpa keberadaan media independen dan profesional, masyarakat kehilangan alat kontrol terhadap kekuasaan. Fungsi pers sebagai alat kritik dan kontrol sosial harus terus dijaga, bukan malah dipinggirkan atau dibungkam.
2. Tolak Stigma "Media Tak Diperlukan" dari Pejabat Publik
Pernyataan kontroversial yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, KDM yang menyatakan bahwa media tak lagi diperlukan karena ada media sosial, menuai kecaman keras. Komunitas pers Bekasi menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk pengerdilan profesi wartawan.
"Kami menuntut klarifikasi dan permintaan maaf terbuka atas pernyataan tersebut," ujar salah satu perwakilan jurnalis lokal. Pernyataan itu dinilai bertentangan dengan semangat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang menegaskan bahwa kemerdekaan pers adalah bagian dari hak asasi warga negara.
3. Media Sosial Tidak Bisa Gantikan Peran Pers
Sikap kritis juga ditujukan pada anggapan bahwa media sosial bisa menggantikan pers. Para jurnalis dengan tegas menolak hal ini. Mereka menjelaskan bahwa media sosial tidak memiliki redaksi, tidak memiliki sistem verifikasi, dan tidak tunduk pada Kode Etik Jurnalistik.
"Pers hadir dengan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Kami bekerja berdasarkan fakta dan aturan, bukan opini liar yang beredar di media sosial," ujar salah satu pemimpin redaksi media lokal di Bekasi.
4. Dorong Sinergi Sehat antara Media, Pemerintah, dan Masyarakat
Meski bersikap kritis, insan pers di Bekasi menegaskan bahwa mereka tidak anti pemerintah. Justru sebaliknya, media melihat dirinya sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat dan edukatif kepada masyarakat.
"Yang kami tolak adalah pola kerja sama yang transaksional. Yang kami dorong adalah hubungan profesional dan sinergis, di mana pers dihormati, bukan dikooptasi," lanjut pernyataan tersebut.
5. Solidaritas dan Martabat Profesi Wartawan Harus Dijaga
Dalam kesempatan yang sama, para jurnalis menyerukan pentingnya membangun solidaritas antar media, khususnya di Bekasi. Mereka mengajak semua pihak untuk tidak saling melemahkan dan menjaga martabat profesi.
"Media di Bekasi harus bersatu dalam satu sikap. Jangan beri celah bagi pihak luar yang ingin memecah belah kekompakan komunitas pers," kata seorang wartawan senior.
Pernyataan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk menjaga demokrasi, memperjuangkan kebenaran, dan melindungi hak publik atas informasi yang objektif dan akurat.
Red

