Siapa Lelaki Tua di Foto Rumah Makan Padang? Ini Jawabannya…?








Pernahkah kamu makan di rumah makan Padang—baik di kampung halaman maupun di rantau—lalu melihat foto seorang lelaki tua, berkopiah hitam, berbaju putih, dan sarung hitam terkulai di lehernya?

Foto itu bukan hiasan biasa.
Itu adalah potret Ungku Saliah, ulama kharismatik yang sangat dihormati masyarakat Minangkabau, khususnya dari Pariaman dan sekitarnya Bukan Hanya Sekadar Gambar di Dinding

Ungku Saliah bukan tokoh fiktif, bukan jimat, bukan pula simbol mistik.
Beliau adalah tokoh nyata, seorang ulama besar yang hidup dari akhir abad ke-19 hingga wafatnya pada 3 Agustus 1974.

Lahir di Pasa Panjang, Sungai Sariak pada tahun 1887, dari ayah berdarah Mandailing dan ibu Suku Sikumbang, Ungku Saliah tumbuh sebagai sosok berilmu, berkepribadian agung, dan berkeramat.


Kenapa Disebut Berkeramat”?

Konon, dalam cerita turun-temurun, beliau bisa berada di dua tempat sekaligus. Hal yang tidak bisa dijelaskan logika, tapi tetap diyakini sebagai tanda karamah dari Allah.

Dalam tradisi Minangkabau, ulama yang memiliki ilmu, akhlak, dan karamah dihormati setinggi langit.
Dan Ungku Saliah adalah salah satunya.

 Lalu Kenapa Fotonya Ada di Rumah Makan?

Jawabannya sederhana tapi dalam: penghormatan.
Pemilik rumah makan—khususnya orang Pariaman memajang foto beliau sebagai bentuk pengingat akan kampung halaman, simbol budaya, dan komunikasi batin antar sesama perantau.

Bahkan, menurut pengajar budaya Minangkabau di UIN Imam Bonjol, jika kamu masuk ke rumah makan, lalu melihat foto Ungku Saliah, lalu memanggil pemiliknya,

“Ajo!”
dan ia menjawab,
“Iya…”,
maka bisa dipastikan: ia orang Pariaman.

Kalau ia hanya tersenyum? Mungkin urang awak dari daerah lain.

 beliau diperkirakan diambil tahun 1971, tiga tahun sebelum wafatnya. Bukan oleh keluarganya, melainkan oleh orang lain.
Sejak saat itu, foto itu tersebar luas, menjadi pengingat tentang ulama yang bersahaja, wibawa, dan dicintai semua kalangan.

Ungku Saliah mungkin sudah tiada,

tapi jejaknya abadi di dinding-dinding rumah makan.
Di antara aroma rendang dan seruan “Lamak bana, Ajo!”,
ada kenangan tentang sosok yang mendidik dengan sikap,
bukan hanya dengan ceramah.


Red
Lebih baru Lebih lama