Drama Para Dewa Beralih Jadi Permainan Omnibuslaw*





Oleh: Sutan Malenggang


BANYAK orang kagum pada kedokteran, tapi sedikit yang benar-benar paham. Begitu kata Prof. Menaldi Rasmin, dalam presentasinya di seminar inagurasi Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI), 22 Agustus 2025. 


Kalau kita jujur, memang begitu kenyataannya; orang tahunya dokter itu “pintar”, pakai jas putih, bisa menyelamatkan nyawa. Tapi di balik itu, ada sejarah panjang, penuh intrik, dan kadang bikin geleng-geleng kepala.


Dari Apollo sampai Hippokrates


Dulu, kesehatan itu urusannya dewa-dewi: Apollo, Aesculapius, sampai Hygieia yang jadi simbol apotek. Lalu datang Hippokrates, si bapak kedokteran, yang bikin sumpah abadi: dokter itu harus jujur, adil, hormat, bertanggung jawab. Intinya: jangan main-main dengan nyawa orang!.


Nah, dari situ kedokteran naik kelas. Dari mitologi jadi filsafat, dari filsafat jadi profesi serius. Di Inggris abad 16, praktik liar bikin orang mati sama banyaknya dengan yang sembuh. Baru setelah Henry VIII bikin Royal College of Physicians tahun 1518, dunia paham: profesi ini butuh aturan, standar, dan integritas.


Prof. Menaldi mengingatkan, perjalanan panjang ini menunjukkan, bahwa; kedokteran tidak pernah sekadar “pekerjaan”. Ia lahir dari nurani, dari kepercayaan masyarakat, dan dari tanggung jawab moral yang berat.


Profesi Dokter Bukan Dagangan


Profesi dokter itu, beda dari sekadar kerja cari duit. Bukan dagang bakso; makin banyak jualan, makin banyak untung. Profesi dokter itu punya tiga hal: 

- Pengaturan mandiri,

- disiplin ketat, dan

- orientasi pelayanan. 


Kode etik itu, kitab sucinya. Kalau profesi dilebur jadi “industri kesehatan”, ya berantakan. Dan inilah yang sedang terjadi. Transformasi kesehatan ala BGS (Budi Gunadi Sadikin) telah menggeser kedokteran dari profesi luhur menjadi sekadar vokasi. Dokter diposisikan seperti operator dalam sebuah sistem bisnis raksasa bernama; “health industry”. Perannya menyempit, martabatnya menipis. Padahal sejak awal sejarahnya, dokter adalah ruh pelayanan kesehatan, bukan sekadar komponen kecil dalam rantai industri.


Dari STOVIA sampai UU Omnibus


Sejarah kedokteran di tanah air, membuktikan hal itu. Jangan lupa STOVIA, sekolah dokter Jawa. Dari sana lahir dokter-dokter yang bukan cuma bisa mengobati, tapi juga memimpin bangsa, diantaranya: Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Radjiman Wediodiningrat, Soetomo.


Mereka bukan hanya tabib, tapi juga pejuang. Dokter, sejak awal, adalah bagian dari sejarah kemerdekaan. Dari meja periksa, mereka beranjak ke meja perjuangan. Dari stetoskop, mereka melangkah ke podium kebangsaan. Profesi dokter lahir sebagai profesi yang membawa misi: menolong manusia sekaligus memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.


Puncaknya di era modern: UU No. 29/2004, lahirlah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Lembaga ini, merupakan; otonom, independen, bertanggung jawab ke kepala negara (bukan kepala pemerintahan). Inilah benteng agar profesi tetap tegak, bukan jadi alat politik.


Tapi apa yang terjadi belakangan ? UU No. 17/2023 — si omnibus law kesehatan — datang seperti badai. Banyak aturan lama dicabut, profesi diacak-acak. Kolegium, konsil, bahkan pendidikan dokter ditarik ke dalam kendali birokrasi. Dosen dipindah seenaknya, STR jadi seumur hidup, rumah sakit tiba-tiba bisa buka program spesialis sendiri. Hasilnya? Chaos. Atau kata Prof. Menaldi: “tragedi terbesar pendidikan kedokteran Indonesia.”


Dari Penolong ke Operator


Disinilah, letak gangguannya: 'perubahan fundamental dalam positioning dokter'. Jika dulu dokter adalah inti pelayanan kesehatan, kini mereka diperlakukan seperti salah satu “komponen produksi”. Seperti mesin dalam pabrik, yang bisa diganti, dipindahkan, atau bahkan diabaikan.


Sejarah, membuktikan: 'bangsa ini bisa berdiri salah satunya karena dokter-dokternya berani keluar dari ruang praktik, mengangkat suara, dan memperjuangkan martabat rakyat'.


Sentralisasi Kekuasaan Kesehatan


Prof. Menaldi mengingatkan, kalau semua kekuasaan profesi dipegang satu tangan, bahaya besar menanti. Sejarah dunia, penuh dengan contohnya. 'Nuremberg Trials' mengungkap eksperimen biomedis tanpa etika di era Nazi. 'Studi Tuskegee' di Amerika menelanjangi bagaimana ribuan pria kulit hitam dibiarkan menderita sifilis tanpa pengobatan, hanya demi “penelitian”.


Semua itu terjadi, karena tak ada check and balance. Ilmu disetir kekuasaan, profesi ditundukkan pada kepentingan dan Indonesia sekarang sedang berjalan ke arah yang sama: 'profesi kedokteran direduksi, regulasi diambil alih, kolegium dipaksa tunduk'.


Kedokteran harus tetap otonom, rasional, berbasis bukti, dan bebas dari konflik kepentingan. Kalau profesi dikebiri, jangan kaget kalau Indonesia hanya jadi pasar tenaga medis murah dan kelinci percobaan industri global.


"Transformasi ala BGS," kerap dibungkus dengan jargon modern: 'efisiensi, inovasi, investasi'. Kesehatan dijual sebagai “komoditas masa depan”. Tapi di balik retorika itu, ada ancaman besar: rakyat jadi pasar, dokter jadi operator, dan negara kehilangan kedaulatannya.


Health industry yang terlalu dominan membuat kesehatan kehilangan ruh sosialnya. Orientasi melayani, tergeser oleh orientasi menjual. Padahal, kedokteran sejak lahir adalah profesi pelayanan, bukan bisnis keuntungan.


Prof. Menaldi menyebut ini tragedi, karena bukan hanya struktur profesi yang terganggu, tetapi juga fondasi moral bangsa. Kalau profesi dokter saja dipersempit menjadi sekadar vokasi, maka yang hilang bukan hanya integritas profesi, tetapi juga teladan bagi generasi muda.


Suara Nurani Guru Besar


Inilah, mengapa Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) lahir. Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia, bukan sekadar forum akademik, tapi suara nurani. Suara yang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang fundamental sedang digeser: "profesi dokter sedang direduksi".


Dalam seminar inagurasi, Prof. Menaldi dan para guru besar lain menyuarakan hal yang sama: profesi ini harus direbut kembali martabatnya. Bukan untuk kepentingan dokter semata, tapi untuk kepentingan rakyat yang berhak mendapatkan pelayanan bermutu.


MGBKI hadir sebagai pengingat, bahwa; kedokteran tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa dan karena itu tidak boleh dijadikan komoditas politik atau pasar.


Dokter Itu; “Orang Baik yang Paham”


Profesi kedokteran tidak pernah berhenti bergerak. Dari mitologi ke laboratorium, dari sumpah ke kurikulum. Tapi jangan lupa intinya: seorang dokter bukan cuma pintar, tapi juga harus baik di mata masyarakat. Kalau cuma pintar tapi tidak dianggap baik, kata Prof. Menaldi, belum jadi 'dokter yang lengkap'.


Maka, kalau hari ini ada yang coba menjadikan kedokteran sekadar bisnis, mari kita tanya balik: "Apakah mereka masih ingat? bahwa; profesi ini lahir bukan dari pasar, tapi dari nurani!". (®)

Lebih baru Lebih lama