Asahan — ||
Kondisi Dam BS 5 yang berada di jalur pengairan menuju Desa Banjar serta arah Rawang Dusun 1, Kecamatan Air Joman, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, kini menjadi sorotan. Infrastruktur pengairan yang seharusnya menjadi penopang utama aktivitas pertanian warga itu dilaporkan mengalami pendangkalan dan penyumbatan parah akibat tumpukan lumpur, sampah, serta material lainnya.
Melihat kondisi tersebut, puluhan warga setempat turun langsung melakukan gotong royong pada Rabu pagi (15/04/2026). Tanpa bantuan alat berat maupun dukungan dari instansi terkait, warga dengan peralatan seadanya berjibaku membersihkan saluran air yang tersumbat.
Dalam pantauan di lokasi, tampak sejumlah warga harus turun langsung ke dalam saluran air yang keruh dan berlumpur. Mereka mengangkat karung berisi sampah, endapan lumpur, hingga material yang menghambat aliran air. Aksi tersebut dilakukan dengan penuh semangat kebersamaan demi menjaga keberlangsungan sumber pengairan bagi lahan pertanian mereka.
Salah seorang warga mengungkapkan bahwa kondisi Dam BS 5 sudah lama mengalami kerusakan dan penyumbatan, namun belum mendapat penanganan serius dari pihak terkait.
“Sudah lama kondisi seperti ini, tapi belum ada tindakan nyata. Kami terpaksa turun sendiri supaya air tetap mengalir ke sawah,” ujarnya.
Warga menyebutkan bahwa aliran air yang tidak lancar mulai berdampak pada lahan pertanian, khususnya yang berada di wilayah Desa Banjar dan Rawang Dusun 1. Jika kondisi ini terus dibiarkan, mereka khawatir akan terjadi gagal panen yang berujung pada kerugian ekonomi bagi para petani.
Kekecewaan masyarakat pun semakin memuncak terhadap pihak instansi yang bertanggung jawab, khususnya Petugas Pengairan Umum (PU), yang dinilai kurang tanggap terhadap kondisi di lapangan. Dugaan adanya pembiaran membuat warga mempertanyakan komitmen dan kinerja dalam menjaga fasilitas pengairan yang vital bagi masyarakat.
Menurut warga, pemeliharaan dan normalisasi dam seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui instansi terkait. Minimnya perawatan berkala terlihat dari kondisi dam yang dipenuhi endapan lumpur serta sampah yang tidak terangkat dalam waktu lama.
Selain menghambat aliran air, kondisi tersebut juga berpotensi merusak struktur bangunan dam dalam jangka panjang. Jika tidak segera ditangani secara serius, kerusakan bisa semakin parah dan membutuhkan biaya yang lebih besar untuk perbaikan.
Aksi gotong royong yang dilakukan warga ini sekaligus menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan serta upaya menjaga keberlangsungan sektor pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat setempat.
Warga berharap pemerintah daerah Kabupaten Asahan serta instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan normalisasi secara menyeluruh terhadap Dam BS 5. Mereka juga meminta adanya pengawasan rutin serta perawatan berkala agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
“Kami hanya ingin air tetap mengalir lancar ke sawah. Kalau pengairan terganggu, kami yang paling merasakan dampaknya,” ujar warga lainnya.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu respons konkret dari pihak terkait. Mereka berharap, persoalan ini tidak hanya menjadi perhatian sesaat, tetapi benar-benar ditindaklanjuti dengan langkah nyata demi kesejahteraan para petani dan keberlanjutan sistem pengairan di wilayah tersebut.
Joner s

