Padang, Sumatera Barat –||
Fenomena banjir yang terus berulang di kawasan Arai Pinang, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, kembali menuai keluhan dari masyarakat. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari hingga sekitar pukul 19.13 WIB menyebabkan genangan air kembali melanda jalan utama Arai Pinang, jalur vital yang menghubungkan masyarakat menuju jalur By Pass dan kawasan Perumahan Pegambiran.
Bagi warga sekitar, peristiwa ini bukan lagi hal baru. Setiap kali musim hujan tiba, kawasan tersebut hampir dipastikan terendam banjir, mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu dan akses jalan menjadi sulit dilalui. Kondisi ini dinilai semakin memprihatinkan karena Jalan Arai Pinang merupakan akses utama bagi ribuan warga, termasuk penghuni Perumnas Griya Elok, Perum Pegambiran, serta sejumlah kawasan permukiman lainnya.
Tidak hanya menjadi akses masyarakat umum, jalan tersebut juga menjadi jalur penting menuju kantor pemerintahan, termasuk kantor camat dan kelurahan di wilayah Lubuk Begalung. Namun ironisnya, menurut warga, hingga saat ini belum terlihat adanya langkah konkret atau perbaikan infrastruktur yang signifikan guna mengatasi persoalan banjir yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.
“Setiap hujan deras pasti banjir. Kami sudah capek menghadapi kondisi seperti ini. Mau lewat susah, kendaraan sering mogok, bahkan pengguna motor banyak yang rusak karena terpaksa menerjang banjir,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keluhan serupa juga datang dari para pengendara ojek dan pengguna jalan lainnya. Mereka mengaku sangat terganggu dengan kondisi jalan yang tergenang hampir setiap musim penghujan. Selain menghambat mobilitas, banjir juga menyebabkan kerusakan kendaraan, terutama sepeda motor yang menjadi alat utama mencari nafkah.
Warga mempertanyakan mengapa hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak terkait, terutama pemerintah kecamatan maupun kelurahan, padahal lokasi banjir disebut hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor pemerintahan setempat.
“Apakah pemerintah tidak melihat kondisi ini? Camat dan lurah pasti melewati jalan itu juga. Kenapa tidak ada upaya serius untuk memperbaiki drainase atau infrastruktur jalan?” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Masyarakat juga menyoroti soal anggaran pembangunan dan perbaikan infrastruktur tahun 2026 yang disebut-sebut telah dikucurkan. Mereka berharap adanya transparansi mengenai penggunaan dana tersebut, khususnya untuk penanganan titik-titik banjir yang selama ini menjadi keluhan utama warga.
Menurut warga, banjir di Arai Pinang bukan hanya persoalan genangan biasa, tetapi sudah menjadi masalah tahunan yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan masyarakat. Saat banjir melanda, sebagian warga bahkan merasa seperti “terkurung” karena akses keluar masuk kawasan menjadi terbatas.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: sampai kapan warga Arai Pinang harus hidup berdampingan dengan banjir yang tak kunjung mendapat solusi? Harapan besar kini ditujukan kepada pemerintah daerah, dinas terkait, serta pihak berwenang agar segera turun tangan melakukan evaluasi dan pembenahan sistem drainase maupun infrastruktur jalan di kawasan tersebut.
Warga berharap keluhan yang selama ini disampaikan tidak lagi hanya menjadi sekadar laporan tanpa tindak lanjut. Mereka menginginkan solusi nyata agar Jalan Arai Pinang kembali menjadi akses yang aman, nyaman, dan layak digunakan oleh masyarakat tanpa dihantui banjir setiap kali hujan turun.
“Kami hanya ingin jalan yang layak dan bebas banjir. Jangan tunggu masyarakat semakin menderita baru ada tindakan,” tutup salah seorang warga
Shintia dewi

