Dugaan Pemberitaan Tidak Akurat Terkait ASN Dinsos Salatiga Berakhir Damai*





Salatiga,  - ||

Merujuk dari pemberitaan dibeberapa media, khususnya media gemasuararakyat.com dan media www.detikrilis.com yang berjudul "ASN Kabid Dinsos Salatiga Diduga Beristri Siri dan Wanita Simpanan: Terancam Dipecat Tak Hormat Serta Dijerat TPPU" dan " Kabid Rehabilitasi BK Diduga Langgar Kode Etik, Kinerja BKD Kota Salatiga Dipertanyakan" yang terbit pada Minggu 30 November 2025 ternyata hanya pemberitaan hoax ataupun tidak berdasar.


Pasalnya narasi tersebut dinilai hanya sebuah dugaan dan terkesan menyudutkan salah seorang Berinisial BK yang diketahui seorang ASN yang menjabat sebagai Kabid Rehabilitasi di Dinas Sosial (Dinsos) Kota Salatiga. Media yang tersebut diatas telah menciderai nilai-nilai kode etik jurnalistik bahwa belum jelas sumber dan datanya namun pemberitaan sudah tayang dan menyerang privasi seseorang.


Dalam hal ini BK telah merasa dirugikan dan merasa nama baiknya jadi tercemar, buntut dari pemberitaan disebuah media tersebut adanya pelaporan terhadap seorang wartawan berinisial SL ke Polda Jawa Tengah dan dilimpahkan ke Polres Salatiga. Namun kedua belah pihak telah melakukan mediasi dan sepakat untuk menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan.


Dan SL sudah mengakui bahwa dirinya merasa bersalah terkait terbitnya pemberitaan ini, karena narasumber tidak bisa dipertanggungjawabkan dan semua informasi yang tertulis dinarasi tersebut tidak benar. Karena BK sendiri adalah seorang ASN yang mempunyai kredibilitas yang tidak diragukan, karena karirnya sangat cemerlang dan berprilaku baik bertolak belakang dengan apa yang tertulis di pemberitaan.


Jadi semua narasi yang tertulis di beberapa media tersebut itu tidak benar alias berita bohong, dan SL sendiri sudah mengakui kesalahan terkait dengan terbitnya pemberitaan tersebut. Disaksikan oleh Andi Kustrianto (wartawan) Pulung (Anggota Polres Semarang) serta difasilitasi oleh Sugeng Widodo selaku penyidik Polres Salatiga perkara ini bisa berakhir dengan perdamaian.


Dalam hal ini jadi pembelajaran bagi insan pers di seluruh nusantara, jika sumber, data dan bukti belum jelas adanya jangan dijadikan produk jurnalistik agar tidak menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.

Lebih baru Lebih lama