Jakarta, 10 Juni 2026 –||
PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai Rabu (10/6/2026). Kenaikan paling signifikan terjadi pada produk Pertamax (RON 92) yang melonjak dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter atau naik sebesar Rp3.950 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Kebijakan tersebut langsung menjadi perhatian masyarakat karena kenaikannya mencapai lebih dari 30 persen dibanding harga sebelumnya. Banyak pengguna kendaraan pribadi maupun pelaku usaha transportasi mengaku terkejut dengan besaran kenaikan yang diberlakukan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut keterangan Pertamina, penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan setelah melalui koordinasi dengan pemerintah selaku regulator. Evaluasi harga mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta harga pasar keekonomian yang terus mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa penyesuaian harga tersebut merupakan bagian dari mekanisme evaluasi berkala yang bertujuan menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional, kualitas layanan, dan keseimbangan bisnis perusahaan.
Selain Pertamax dan Pertamax Green, beberapa produk BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo (RON 98) tetap berada di angka Rp20.750 per liter. Sementara itu, Dexlite bertahan pada harga Rp23.000 per liter dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Di sisi lain, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual dengan harga Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah yang masih bergantung pada BBM subsidi.
Kenaikan harga Pertamax diperkirakan akan berdampak pada meningkatnya biaya operasional kendaraan pribadi, angkutan barang, hingga sektor usaha yang menggunakan BBM non-subsidi. Sejumlah pengamat ekonomi menilai kenaikan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa apabila biaya distribusi ikut meningkat.
Di berbagai daerah, masyarakat mulai membandingkan selisih harga antara Pertamax dan Pertalite yang kini mencapai Rp6.250 per liter. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap BBM subsidi, sehingga pemerintah dan Pertamina diharapkan dapat menjaga ketersediaan stok agar tidak terjadi kelangkaan di lapangan.
Berikut daftar harga BBM Pertamina yang berlaku mulai 10 Juni 2026:
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar Subsidi: Rp6.800 per liter
Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter
Pertamax Green 95: Rp17.000 per liter
Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750 per liter
Dexlite: Rp23.000 per liter
Pertamina Dex: Rp24.800 per liter
Dengan kenaikan harga ini, masyarakat berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mengendalikan dampak lanjutan terhadap harga kebutuhan pokok serta biaya transportasi yang berpotensi meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Tr32

