Ba'da Maghrib, Ratusan Santri Ponpes Asshiddiqiyyah 4 Karawang Tekuni Kajian Kitab Kuning Bersama KH. M. Ali Mansur Syadzili

 



Karawang – ||

Suasana khusyuk dan penuh semangat keilmuan tampak menyelimuti Pondok Pesantren Asshiddiqiyyah 4 Karawang setiap usai salat Maghrib. Ratusan santriwan mengikuti kegiatan belajar kitab kuning yang dipimpin langsung oleh KH. M. Ali Mansur Syadzili selaku Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyyah.


Kegiatan mengaji kitab kuning merupakan salah satu tradisi utama yang terus dipertahankan di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya mencetak generasi Islam yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki pemahaman agama yang mendalam berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, serta warisan keilmuan para ulama salaf.



Dalam setiap sesi pengajian, KH. M. Ali Mansur Syadzili membimbing para santri membaca, menerjemahkan, serta menjelaskan kandungan kitab secara rinci. Para santri menyimak dengan penuh perhatian sambil memberikan makna pada setiap kalimat Arab yang dipelajari. Metode pembelajaran ini telah menjadi ciri khas pendidikan pesantren yang diwariskan secara turun-temurun.


Kitab kuning sendiri merupakan istilah yang sangat dikenal di kalangan pesantren di Indonesia. Sebutan tersebut merujuk pada kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari fikih, akidah, tasawuf, tafsir, hadis, hingga ilmu tata bahasa Arab seperti nahwu dan shorof.


Istilah "kitab kuning" berasal dari warna kertas yang dahulu banyak digunakan untuk mencetak kitab-kitab tersebut, yakni berwarna kuning atau kekuning-kuningan. Di kalangan santri, kitab ini juga sering disebut sebagai kitab gundul karena teks Arabnya tidak menggunakan harakat atau tanda baca. Oleh sebab itu, seorang santri dituntut menguasai ilmu nahwu dan shorof agar mampu membaca dan memahami isi kitab dengan benar.


Berbagai kitab yang dipelajari di pesantren memiliki tingkatan sesuai kemampuan santri. Dalam bidang fikih misalnya terdapat kitab Safinatun Najah, Fathul Qorib, hingga Minhajut Thalibin. Pada bidang akhlak dan tasawuf terdapat kitab Ta'limul Muta'allim, Akhlaq lil Banin, serta Ihya Ulumiddin. Sementara untuk ilmu tata bahasa Arab digunakan kitab seperti Jurumiyyah dan Alfiyah Ibnu Malik. Seluruh kitab tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun wawasan keislaman yang komprehensif.


Tradisi belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Asshiddiqiyyah 4 Karawang dilaksanakan secara rutin melalui metode yang telah lama dikenal di dunia pesantren, seperti bandongan, yaitu kiai membacakan dan menjelaskan isi kitab sementara para santri menyimak serta memberi makna; sorogan, yakni santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru untuk dikoreksi; serta diskusi keilmuan yang bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis dalam memahami persoalan-persoalan keagamaan.


Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyyah dipimpin oleh KH. Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan) yang terus berkomitmen menjaga tradisi keilmuan pesantren serta membentuk santri yang memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.


Melalui kegiatan ba'da Maghrib ini, Pondok Pesantren Asshiddiqiyyah 4 Karawang menunjukkan komitmennya dalam melestarikan tradisi intelektual Islam yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad. Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pendidikan kitab kuning tetap menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi penerus yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, berkarakter, serta siap mengabdikan ilmunya bagi agama, bangsa, dan negara.


Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga pusat pembinaan karakter, kedisiplinan, dan moral generasi muda. Dengan semangat belajar yang tinggi, para santri diharapkan mampu menjadi ulama, dai, pendidik, maupun pemimpin umat yang membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat luas.


Red

Lebih baru Lebih lama