Festival Silat Tradisi Bangsa Melayu Jadi Momentum Merawat Budaya dan Mempererat Persaudaraan


Jurnal Investigasi Mabes | Pekanbaru,
– Semangat melestarikan warisan budaya bangsa kembali digaungkan melalui Festival Silaturahim Silat Tradisi Bangsa Melayu yang digelar di GOR Tribuana Pekanbaru, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat persaudaraan antarperguruan silat sekaligus meneguhkan komitmen menjaga silat tradisi sebagai identitas budaya Indonesia.


Festival tersebut dihadiri mewakili Wali Kota Pekanbaru oleh Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Pekanbaru, Yuliarso. Turut hadir Tuan Guru sekaligus Ketua IPSI 50 Koto, para guru dan tuo-tuo silat, Tuangku Kadiman Dt. Simarajo Nan Kayo selaku Wali Nagari Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Tuangku Jalius St. Bagindo beserta rombongan, Raja Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari selaku Pendiri Silat Tuah Sakti, serta seluruh perguruan silat yang ikut memeriahkan kegiatan.


Dalam sambutannya, Yuliarso menegaskan bahwa Festival Silaturahim Silat Tradisi Bangsa Melayu bukan sekadar agenda budaya, tetapi merupakan upaya nyata menjaga warisan leluhur yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter.


"Silat tradisi mengajarkan disiplin, adab, persaudaraan, serta penghormatan kepada guru dan orang tua. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, tangguh, dan berakhlak mulia. Pemerintah Kota Pekanbaru akan terus mendukung pelestarian silat tradisi sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan budaya," ujar Yuliarso.


Sementara itu, Raja Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari, Pendiri Silat Tuah Sakti, menegaskan bahwa silat tradisi merupakan warisan peradaban yang tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman.


"Silat tradisi bukan sekadar ilmu bela diri, melainkan pusaka budaya yang diwariskan para leluhur. Di dalamnya hidup nilai adab, akhlak, persaudaraan, penghormatan kepada guru, serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air. Jika silat tradisi mampu kita jaga, maka sesungguhnya kita sedang menjaga jati diri bangsa Indonesia," ungkapnya.


Ia juga mengajak seluruh perguruan silat, para guru, tuo-tuo silat, dan generasi muda untuk terus bersatu dalam merawat warisan budaya tersebut.


"Festival seperti ini harus menjadi gerakan bersama. Jangan biarkan silat tradisi hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi jadikan ia sebagai napas budaya yang terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari gelanggang silat inilah lahir insan-insan yang kuat jasmaninya, luhur budinya, dan kokoh rasa cintanya kepada budaya bangsa," tegas Raja Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari.


Ketua panitia pelaksana Martias,dan juga wakil ketua IPSI kota Pekanbaru menegaskan bahwa festival ini menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan antarperguruan silat sekaligus menjaga marwah pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.


"IPSI tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam membina prestasi olahraga pencak silat, tetapi juga berkewajiban menjaga kelestarian silat tradisi sebagai akar budaya yang melahirkan nilai-nilai luhur. Festival Silaturahmi Silat Tradisi Bangsa Melayu menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat kolaborasi antarperguruan, dan memastikan warisan para leluhur tetap hidup di tengah masyarakat."


Martias juga mengajak seluruh insan persilatan untuk bersama-sama membina generasi muda agar mencintai silat tradisi sebagai bagian dari identitas bangsa.


"Melalui kebersamaan seluruh perguruan, guru, dan tuo-tuo silat, kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya tangguh dalam kemampuan bela diri, tetapi juga memiliki akhlak, disiplin, rasa hormat, serta kecintaan terhadap budaya Indonesia. Inilah kekuatan silat tradisi yang harus terus kita jaga dan wariskan."


Silat tradisi merupakan warisan budaya yang mencakup tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual, festival, pengetahuan, praktik sosial, hingga kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pelestariannya sejalan dengan komitmen nasional untuk menjaga jati diri bangsa di tengah perkembangan zaman.


Festival ini diharapkan menjadi wadah silaturahim ,memperkuat persatuan antarinsan persilatan, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Melayu dan warisan luhur bangsa Indonesia sehingga tetap lestari dari generasi ke generasi.

Lebih baru Lebih lama