Oleh: FC-Goest
(Inisiator For-WIN)
POTRET di kiri poster, ada harapan. Saat Jenderal Suyudi A.S. dengan bersahaja menyampaikan SLOGAN yang ditawarkan dalam uji kelayakan sebagai calon Kapolri dan bilang dengan lantang: "Polisi Bersama Masyarakat". Merupakan gerakan moral dan kultural sebagai doktrin kepemimpinan.
Suyudi bilang, kalau transformasi yang paling dibutuhkan, adalah; Mengembalikan Polri Kepangkuan Rakyat.
Kalimat emas. Doktrin yang menyatukan seluruh kebijakan kepada satu orientasi: MASYARAKAT. Bukan kepada kekuasaan, bukan kepada pemilik modal, tapi kepada RAKYAT.
Namun, di kanan, ada kenyataan yang menampar doktrin itu.
REALITA DI SUKOHARJO: 27 OKT 2026 - JAM 03.20 WIB: 12 Santriwati Ponpes Hamalatul Qur'an Mojolaban usia 10-16 tahun sedang tidur. Pintu ponpes didobrak. Laras panjang ditodongkan. Anak-anak berhijab yang belum sempat pakai jilbab lengkap dibentak, ditarik, digelandang ke Polsek Mojolaban lalu Polres Sukoharjo. Diperiksa sampai maghrib. Hasilnya? ternyata: TIDAK TERBUKTI terlibat pembakaran Warung Mi dan Babi Tepi Sawah 12 September.
Komnas HAM, menyebut ini; tidak proporsional, tidak sensitif gender, dan melanggar hak anak. Mabes Polri pun akhirnya sampaikan empati dan janji evaluasi Propam.
Inikah, yang disebut: POLISI BERSAMA MASYARAKAT?
Bersama masyarakat itu; memeluk, bukan menodong.
Mengayomi, bukan mengintimidasi.
Kembali kepangkuan rakyat, bukan membuat rakyat trauma di pangkuannya sendiri.
Kami dari Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN) jadi bertanya: "Bagaimana mungkin doktrin seindah itu, bisa-bisanya berubah menjadi arogansi bersenjata di jam 3 pagi di hadapan santriwati yang merupakan anak-anak penghafal Qur'an?
Kalau doktrin ini serius, maka kasus Sukoharjo harus jadi ujian pertama buat Kapolri baru:
1. Buktikan Doktrin Itu Dengan Tindakan: Copot dan periksa Kapolda Jateng dan Kapolres Sukoharjo yang memerintahkan operasi dini hari tersebut. SOP jelas: geledah ponpes putri wajib Polwan, tokoh agama, tidak boleh jam 22.00-06.00.
2. Kembalikan Polri Kepangkuan Rakyat Dengan Trauma Healing: Berikan pendampingan psikologis untuk 12 santriwati, kembalikan barang-barang mereka (HP, uang, emas, motor) yang sempat disita — yang menurut laporan sudah dikembalikan 31 Okt, tapi traumanya belum.
3. Jangan Ulangi Arogansi Untuk Warung Vs Hutan: Rakyat sudah muak melihat hukum cepat untuk warung, lambat untuk pembakar hutan!
Jenderal Suyudi, rakyat menunggu. Jika Bapak ingin jadi Kapolri yang dicintai, jangan biarkan poster kiri dan kanan ini terus berdampingan. Hapus yang kanan. Wujudkan yang kiri.
Karena, Rakyat tidak butuh polisi yang ditakuti. Rakyat butuh polisi yang ketika datang, santriwati tidak menangis ketakutan, tapi tersenyum karena merasa aman.
Itulah, yang namanya; "Polri Kembali Kepangkuan Rakyat!" (®)

