اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَل لهِ الْحَمْدُ
Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Gema takbir memenuhi alam jagad raya, tanda hari kemenangan telah tiba. Fitrah kesucian dan kebersihan setiap jiwa memperoleh kesempurnaan, menjadi nikmat yang harus kita syukuri dalam desahan nafas kehidupan kita. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah pada Baginda Nabi Besar Muhammad ﷺ, sosok manusia pilihan (al-musthafa) sebagai penghubung atas pengampunan dosa-dosa kita dengan melimpahnya syafaat yang kita cari.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَل لهِ الْحَمْدُ
Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Bahwa Ramadhan kita hadirkan persaudaraan merupakan hal yang menyejukkan dan teramat penting bagi setiap pribadi muslim. Allah SAW. telah memberikan peringatan yang cukup tegas dalam Surat al-Hujurat ayat 10, sebagaimana berikut :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَا تَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,”
Dalam tradisi bangsa Indonesia, Hari Raya Idul Fitri terkenal dengan nama Lebaran. Para ahli bahasa menyebut bahwa kata Lebaran salah satunya berasal dari bahasa Jawa yakni 'lebar' yang memiliki arti 'selesai'. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, kata Lebaran dimaknai sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan, meski haus dan lapar, lelah dan lemas, sabar dan tabah selalu kita jaga puasa kita.
Persaudaraan manifestasi dari praktik ubudiah kita, engga cukup kita hanya sekedar beriman kepada Allah ﷻ dengan intens (bersifat vertikal) kecuali mampu mengeksplor diri dalam cakupan jamaah atau pun masyarakat (bersifat horizontal). Harus mampu mengendalikan personalitinya lebih baik pasca Ramadhan, bukan sekedar 'cassing' atau 'live service,' nilai predikat taqwa menjadi semangat kita untuk mengaktualisasikan diri ketika sudah mapan maka bantu atau bantuan yang belum, Seperti ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّه ُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْ سِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Siapapun yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari berhenti. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan dia di dunia dan akhirat.”
Disambung dalam hadis sahih disebutkan :
“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ”
“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya”
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَل لهِ الْحَمْدُ
Hadirin Rahimakumullah,
Momen lebaran kita harus bisa bersilaturahmi dengan kekeluargaan yang memang saling silih asah, silih asih, silih asuh disertai silih wangi, sehingga skala prioritas dalam berbagi ada yang harus dipegang penuh, Allah ﷻ berfirman dalam Al-Baqarah ; Ayat 215
يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan َّبِيْلِۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٢١٥
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Mengatakan, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, s orang yang dalam perjalanan (dan memerlukan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
Cukup jelas alur berbagi atau sedekah membantu saudara kita :
Pertama kepada kedua orang tua kita.
Kedua kepada kerabat.
Ketiga anak-anak yatim.
Keempat orang-orang miskin.
Kelima orang yang dalam perjalanan dan membutuhkan pertolongan.
Lakukan itu semua niscahya di bulan Syawal ini sesuai dengan maknanya keimanan dan ketaqwaan kita benar-benar meningkat, saling silaturahmi, kunjungan antara anak dan orang tua, adik dan kaka, murid dengan guru agar tidak ada skat-skat yang menghalangi kita dan masyarakat luas. Mari kita telaah Nabi Muhammad ﷺ bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Imam Abu Dawud :
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah kedua muslim bertemu dan saling berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah.”
(HR Abu Dawud).
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam setiap aktivitas kehidupan, manusia selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan kehidupan yang harmonis dengan saling membantu dan memudahkan urusan orang lain. Ketika kita bisa menjadi yang baik dan mampu memberi jalan kemudahan bagi kesulitan orang lain, maka jiwa Allah pun akan memberikan balasan berupa kemudahan pada kesulitan yang kita hadapi baik di dunia, hilangkan ego untuk memaafkan atau maaf meminta, semoga Allah ﷻ selalu membimbing kita di jalan yang diridhai. Amiin. *(FC)*

