Proyek Fasum Tetap Jalan,Walau Anggaran Menjerit

 






Jurnal Investigasi Mabes Bondowoso - Deru pembangunan tak sepenuhnya berhenti di Bondowoso. Meski tekanan anggaran kian terasa, pemerintah daerah tetap mengayuh program perbaikan infrastruktur jalan.


Di tengah ruang fiskal yang kian menyempit, perbaikan jalan di Bondowoso tetap berjalan. Bukan tanpa tantangan, tapi dengan cara-cara yang kian mengandalkan kolaborasi.


Tahun 2026 ini, sebanyak 134 titik jalan masuk dalam program RANTAS (Ruas Infrastruktur Jalan Tuntas). Titik-titik tersebut tersebar di 23 kecamatan, dengan total panjang penanganan mencapai 31,46 kilometer.


Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menyebut hingga akhir Maret, pekerjaan tetap berjalan. Terutama pada sektor pemeliharaan jalan yang dilakukan secara berkelanjutan sejak awal tahun.


“Perbaikan jalan itu ada rekonstruksi, ada perbaikan, dan ada pemeliharaan. Pemeliharaan ini sudah jalan terus,” ujarnya.


Tiga skema itu menjadi strategi utama, rekonstruksi untuk kerusakan berat, perbaikan untuk kondisi sedang, dan pemeliharaan untuk menjaga kualitas jalan tetap layak. Namun, di sisi lain, ruang gerak anggaran kian terbatas.


Tahun ini, Bondowoso hanya menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp1,2 miliar, itu pun khusus untuk sanitasi dan penurunan stunting.


Sementara DAK fisik untuk pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur jalan dan irigasi, nihil.

“DAK fisik untuk pendidikan, kesehatan, termasuk irigasi dan jalan tidak ada,” jelasnya.


Kerusakan jalan yang tak kunjung tertangani, juga mendorong warga Kecamatan Pujer bergerak sendiri. Dengan dana pribadi pengusaha lokal dan swadaya masyarakat, jalan berlubang sepanjang tiga kilometer mulai ditambal sulam.


Pemkab Bondowoso menyiapkan perbaikan 134 ruas jalan tahun ini. Mayoritas proyek infrastruktur tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang tematiknya terfokus pada wilayah sekitar industri.


Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Anshori, menegaskan bahwa perbaikan tetap berjalan dengan dukungan Dana Alokasi Umum (DAU). “Ada rehabilitasi jalan, ada juga rekonstruksi jalan,” ungkapnya.


Dari total penanganan tersebut, masih tersisa pekerjaan rumah yang tak kecil. Kerusakan jalan di Bondowoso masih mencapai 305,58 kilometer. Di tengah keterbatasan itu, muncul gerakan lain dari bawah.


Kondisi itu tak lepas dari tekanan dana transfer ke daerah (TKD dan TKDD) yang mengalami penurunan. Investigasinya, pembangunan harus disesuaikan dengan kemampuan yang ada.(AF)

Lebih baru Lebih lama