ACEH — Dunia musik Aceh kembali diramaikan oleh lagu lama yang pernah begitu populer pada era 2000-an.
Lagu “Kapalo Nek Kapalo Palo” yang dinyanyikan oleh Said Jaya, salah seorang seniman sekaligus putra Aceh, kembali mencuri perhatian publik dan menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat Aceh.
Lagu yang dahulu akrab di telinga masyarakat tersebut kini menemukan “kehidupan kedua” melalui berbagai platform media sosial. Potongan lagu, video klip, hingga unggahan ulang kembali bermunculan dan dibagikan oleh pengguna media sosial.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa karya musik daerah yang pernah berjaya pada masanya ternyata masih memiliki daya tarik kuat ketika bertemu dengan generasi pengguna media sosial saat ini.
Bukan sekadar lagu lama yang kembali diputar, “Kapalo” seolah menjadi mesin nostalgia yang membawa masyarakat Aceh kembali mengingat suasana musik lokal era 2000-an.
Dari Kaset dan Televisi, Kini Berpindah ke YouTube dan TikTok
Jika dahulu lagu-lagu Aceh dikenal melalui kaset, CD, televisi lokal, maupun acara hiburan masyarakat, kini pola penyebarannya berubah drastis.
YouTube dan TikTok menjadi ruang baru bagi lagu-lagu lawas untuk kembali ditemukan oleh pendengar.
Lagu “Kapalo” menjadi salah satu contoh menarik. Musik yang sebelumnya mungkin hanya dikenal oleh generasi tertentu kini kembali diperkenalkan kepada pengguna media sosial yang lebih muda.
Tak heran jika sejumlah warganet mulai memburu kembali lagu tersebut, mencari video klipnya, membagikan potongannya, bahkan menjadikannya bagian dari konten media sosial.
Video Klip Tgk Iliyas Alias “Sibajo” Ikut Jadi Perhatian
Perhatian publik terhadap lagu tersebut juga semakin menarik setelah salah satu video klip yang menampilkan Tgk Iliyas alias “Sibajo” kembali beredar dan mendapatkan perhatian di media sosial.
Sosok “Sibajo” yang belakangan turut menjadi perbincangan di jagat media sosial membuat keberadaan video lama tersebut kembali mendapat sorotan.
Perpaduan antara lagu lawas, karakter video klip yang khas, serta algoritma media sosial akhirnya menciptakan fenomena tersendiri.
Apa yang dahulu mungkin dianggap sebagai bagian dari kenangan musik Aceh, kini justru kembali menjadi materi hiburan yang dinikmati dan diperbincangkan oleh masyarakat lintas generasi.
Bukan Sekadar Lagu Lama
Kembalinya “Kapalo” ke ruang publik digital memberikan pesan penting bagi perkembangan musik Aceh.
Karya daerah tidak selalu mati dimakan zaman.
Ketika sebuah lagu mempunyai karakter kuat, lirik yang mudah diingat, serta identitas budaya yang melekat, peluang untuk kembali dikenal tetap terbuka, bahkan puluhan tahun setelah pertama kali populer.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa karya seniman Aceh memiliki kekayaan tersendiri yang patut dirawat, didokumentasikan, dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda.
Kini pertanyaannya bukan lagi sekadar “siapa yang masih ingat lagu Kapalo?”
Melainkan :
“Sampai kapan lagu-lagu Aceh klasik akan terus kembali menemukan pendengarnya di era digital?”
Dan untuk “Kapalo Nek Kapalo Palo”, jawabannya tampaknya sedang diberikan oleh netizen sendiri: lagu lama, tetapi gaungnya kembali terdengar di zaman baru.

