TNI Turun ke Sawah Dampingi Petani di Sumba Timur, Pemda Ditantang Tak Sekadar Bicara Ketahanan Pangan








SUMBA TIMUR, NTT — ||

Upaya memperkuat ketahanan pangan tidak cukup hanya diwacanakan melalui program, rapat, maupun seremoni. Di tengah masyarakat, kerja nyata justru terlihat ketika aparat teritorial TNI turun langsung mendampingi petani menggarap lahan pertanian.


Hal tersebut terlihat di Desa Lambakara, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Kamis (3/9/2026), Babinsa Koramil 03/Pahunga Lodu Kodim 1601/Sumba Timur, Sertu Yohan Saekoko, turun langsung ke sawah mendampingi petani melakukan penanaman padi.


Kegiatan tersebut berlangsung di lahan milik Thomas dengan luas sekitar 25 are. Lahan tersebut merupakan bagian dari Kelompok Tani Firdaus.


Sertu Yohan tidak sekadar hadir untuk melakukan pemantauan. Ia turut membantu petani di lapangan sekaligus memberikan motivasi agar lahan pertanian tetap produktif dan kegiatan penanaman dapat berjalan dengan baik.


Kehadiran Babinsa di tengah petani menjadi gambaran bahwa pendampingan terhadap masyarakat tidak hanya dilakukan dari balik meja. Aparat teritorial turut hadir secara langsung di lapangan, melihat kondisi pertanian dan berinteraksi dengan para petani.


Menurut Sertu Yohan, kehadiran Babinsa di tengah petani diharapkan dapat memberikan semangat sekaligus membantu kelancaran setiap tahapan kegiatan pertanian sehingga hasil produksi dapat lebih optimal.



Kegiatan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai sejauh mana pemerintah daerah memberikan dukungan nyata kepada sektor pertanian.


Ketahanan pangan merupakan salah satu agenda strategis yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Petani sebagai pelaku utama tentu membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada pendampingan sesaat.


Berbagai kebutuhan seperti ketersediaan sarana produksi pertanian, pupuk, bibit, pengairan, akses teknologi, peningkatan kapasitas petani hingga kepastian pemasaran hasil panen menjadi bagian penting yang harus diperhatikan secara berkelanjutan.


Kehadiran TNI melalui Babinsa patut diapresiasi. Namun, keterlibatan tersebut semestinya tidak kemudian membuat tanggung jawab pemerintah daerah menjadi berkurang.


Justru sebaliknya, kehadiran aparat di lapangan harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk semakin memperkuat program pertanian dan memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Sebab, apa artinya berbicara panjang mengenai ketahanan pangan apabila petani masih menghadapi berbagai persoalan mendasar dalam mengelola lahan mereka?


Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dituntut tidak hanya menjadikan ketahanan pangan sebagai narasi kebijakan. Program yang dirancang harus terlihat dampaknya di tingkat petani.


Petani membutuhkan dukungan konkret mulai dari proses persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen dan pemasaran. Dengan demikian, produktivitas pertanian dapat meningkat sekaligus memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.


Di Desa Lambakara, keterlibatan Babinsa menunjukkan bahwa kerja pendampingan dapat dilakukan secara langsung dan menyentuh kebutuhan masyarakat.


Namun pekerjaan besar membangun ketahanan pangan tentu tidak dapat dibebankan kepada TNI semata. Pemerintah daerah, dinas terkait, penyuluh pertanian, kelompok tani dan berbagai pemangku kepentingan lainnya harus mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya.


Jika ketahanan pangan benar-benar menjadi prioritas, maka petani harus ditempatkan sebagai pusat kebijakan. Mereka bukan sekadar objek program, melainkan aktor utama yang menentukan keberhasilan sektor pertanian.


Dari lahan pertanian di Lambakara, pesan sederhana kembali terlihat: TNI hadir bersama rakyat dan ikut mendorong petani agar tetap produktif.


Kini tantangannya berada di tangan pemerintah daerah. Publik tentu ingin melihat apakah semangat yang ditunjukkan di lapangan tersebut juga diikuti dengan kebijakan dan dukungan nyata bagi para petani.

Karena pada akhirnya, keberhasilan ketahanan pangan tidak diukur dari seberapa banyak slogan yang disampaikan, tetapi dari seberapa luas lahan yang produktif, seberapa besar hasil pertanian yang dihasilkan, serta seberapa sejahtera petani yang menggarapnya.

Yohanes/sumba


Yohanes gela Mase
Sumba
Lebih baru Lebih lama