SUMBA BARAT, NTT. JURNAL INVESTIGASI MABES_||
Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bersiap mencatat sejarah baru dalam dunia olahraga berkuda nasional. Lapangan Gelora Pada Eweta (GPE) di Kabupaten Sumba Barat ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda, baik kategori nonpelana maupun berpelana, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang akan digelar di NTT dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penetapan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumba, khususnya para pencinta pacuan kuda yang selama ini menjadikan olahraga tersebut sebagai bagian penting dari tradisi, budaya, sekaligus penggerak perekonomian masyarakat.
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Marciano Norman, sebelumnya menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan pacuan kuda di Sumba Barat saat berkunjung untuk menyaksikan final perlombaan Kuda Pacu Bupati Cup Sumba Barat.
Dalam kunjungan tersebut, Marciano Norman didampingi Gubernur NTT Melki Laka Lena, Ketua Konfederasi Nasional PORDASI Triwatty Marciano, Ketua Pengprov FN PORDASI Pacu NTT Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, S.H., M.H., serta jajaran pengurus PORDASI lainnya.
Selain menyaksikan pertandingan, rombongan juga meninjau sejumlah fasilitas pendukung pacuan kuda di empat kabupaten di Pulau Sumba.
Sebagai bagian dari persiapan menuju PON XXII 2028, KONI Pusat menurunkan tim Technical Delegate untuk melakukan visitasi dan menilai kelayakan venue cabang olahraga pacuan kuda di Gelora Pada Eweta, Sumba Barat.
Kegiatan visitasi berlangsung pada 15–17 Oktober 2026. Tim dipimpin oleh Aguspen Adnan, Direktur Pacu Tradisional PB Federasi PORDASI, yang bertugas sebagai utusan KONI Pusat, dengan pendampingan Sekretaris Pengprov PORDASI Pacu NTT, Lourens Leba Tukan.
Visitasi tersebut bertujuan memastikan kesiapan lintasan, sarana dan prasarana, serta pemenuhan persyaratan teknis yang dibutuhkan untuk menyukseskan pertandingan tingkat nasional.
Kepada media Jurnal Investigasi Mabes, Aguspen Adnan menjelaskan bahwa Lapangan Gelora Pada Eweta dinilai memiliki potensi kuat untuk menjadi venue pacuan kuda PON 2028.
Menurutnya, lintasan yang tersedia memiliki panjang 1.200 meter dan lebar 20 meter. Meski demikian, masih terdapat sejumlah rekomendasi teknis yang perlu ditindaklanjuti agar fasilitas tersebut semakin memenuhi standar pertandingan.
“Lebar lintasan disarankan ditambah menjadi 25 meter, dengan mempertimbangkan kebutuhan pertandingan yang memungkinkan 12 ekor kuda dilepas secara bersamaan dari garis start,” jelas Aguspen Adnan.
Selain pelebaran lintasan, pembenahan juga diperlukan pada sejumlah fasilitas pendukung. Pagar keliling yang telah tersedia perlu dirapikan, sementara tribun penonton dan fasilitas lainnya harus ditingkatkan agar mampu menunjang kelancaran serta keamanan penyelenggaraan pertandingan.
Menurutnya, kesiapan venue tidak hanya ditentukan oleh kondisi lintasan, tetapi juga oleh kelengkapan infrastruktur pendukung yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan event olahraga berskala nasional.
Dalam rencana awal, terdapat 20 nomor kelas pacuan kuda yang diusulkan untuk dipertandingkan pada PON XXII 2028. Namun, berdasarkan penjelasan Aguspen Adnan, jumlah yang disetujui untuk diperlombakan sebanyak 14 kelas.
Ke-14 kelas tersebut terdiri atas sembilan kelas pacuan kuda nonpelana dan lima kelas pacuan kuda berpelana.
Penyelenggaraan pacuan kuda nonpelana dalam PON 2028 menjadi momentum bersejarah bagi olahraga berkuda Indonesia. Karena itu, para pemilik kuda, pelatih, atlet, serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan mulai mempersiapkan diri sejak dini.
Aguspen Adnan juga mengimbau masyarakat dan para pelaku olahraga berkuda untuk menyiapkan kuda sesuai karakteristik dan jarak tempuh setiap kelas yang akan dipertandingkan.
Proses seleksi kuda direncanakan berlangsung pada 2027, sehingga persiapan pembinaan, latihan, dan peningkatan kualitas kuda perlu dilakukan secara terarah.
Persiapan sejak awal dinilai penting agar atlet dan kuda pacu dari NTT maupun daerah lainnya dapat bersaing secara kompetitif pada ajang olahraga nasional tersebut.
Di sisi lain, Provinsi Nusa Tenggara Barat juga mengusulkan agar pelaksanaan babak kualifikasi pacuan kuda menuju PON XXII 2028 dipusatkan di wilayah NTB.
Usulan tersebut disampaikan oleh pemerintah daerah bersama pengurus FN PORDASI Pacu NTB. Namun, rencana lokasi pelaksanaan babak kualifikasi tersebut masih menunggu keputusan resmi.
Aguspen Adnan menyampaikan bahwa berbagai usulan terkait pelaksanaan babak kualifikasi dan persiapan pertandingan akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang direncanakan berlangsung pada Desember 2026.
Keputusan Rakernas nantinya diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh pihak dalam menyusun tahapan persiapan, termasuk penjadwalan pertandingan, persyaratan teknis, dan kesiapan peserta.
Ketua Pengprov FN PORDASI Pacu NTT, Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, S.H., M.H., menyambut baik penetapan Kabupaten Sumba Barat sebagai lokasi penyelenggaraan pacuan kuda PON 2028.
Menurutnya, kepercayaan tersebut merupakan peluang besar bagi Sumba Barat dan Provinsi NTT untuk meningkatkan prestasi olahraga berkuda sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Umbu Rudi menilai Pulau Sumba memiliki keunggulan tersendiri karena dikenal sebagai salah satu daerah yang lekat dengan tradisi kuda Sandelwood dan budaya pacuan kuda yang telah berlangsung turun-temurun.
Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar pertandingan olahraga. Tradisi ini juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, perayaan budaya, serta kegiatan yang berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lokal.
“Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda adalah ruang bertemunya masyarakat sekaligus tempat bertumbuhnya kebanggaan daerah. Tradisi ini menjadi bagian dari perayaan budaya dan selama ini turut menggerakkan perekonomian masyarakat,” ungkap Umbu Rudi.
Ia berharap penyelenggaraan PON 2028 dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari peningkatan aktivitas ekonomi, promosi potensi daerah, hingga berkembangnya pembinaan atlet dan olahraga berkuda di NTT.
Umbu Rudi juga mengingatkan seluruh pelaku olahraga berkuda agar segera melakukan persiapan, terutama dalam pembinaan atlet, peningkatan kualitas kuda pacu, serta penguatan organisasi dan program latihan untuk menghadapi agenda nasional.
UMBU RUDI TEGASKAN PERSOALAN KEPEMIMPINAN PORDASI SUDAH DITUNTASKAN
Dalam kesempatan yang sama, Jurnal Investigasi Mabes turut meminta penjelasan mengenai persoalan kepengurusan PORDASI di tingkat Provinsi NTT yang sebelumnya diwarnai polemik mengenai dualisme kepemimpinan.
Menanggapi hal tersebut, Umbu Rudi menyatakan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan melalui surat Ketua Umum KONI Pusat Nomor 433/UMM-SETUM/VI/2026 tertanggal 4 Juni 2026, yang ditandatangani Sekretaris Jenderal KONI Pusat, Drs. Tb. Lukman Djajadikusuma, MEMOS, dan ditujukan kepada Ketua Umum KONI NTT.
Menurut Umbu Rudi, surat tersebut menegaskan pengakuan terhadap kepengurusan PP Federasi Nasional PORDASI Pacu yang dipimpin Drs. Teddy Soediro sebagai ketua umum serta kepengurusan Pengprov FN PORDASI Pacu NTT yang dipimpinnya.
Ia juga merujuk pada berita acara pelantikan Nomor 13 Tahun 2024 tertanggal 25 November 2024 dengan masa bakti 2024–2028, serta SK pengukuhan personalia Nomor 135 Tahun 2024 tertanggal 22 November 2024 yang ditandatangani Ketua Umum KONI Pusat, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Marciano Norman.
Umbu Rudi menegaskan bahwa kepastian organisasi sangat penting agar seluruh pihak dapat berkonsentrasi pada pembinaan atlet, peningkatan prestasi, serta persiapan menghadapi PON XXII 2028.
Kendati demikian, rincian dan status administratif kepengurusan tersebut perlu dirujuk pada dokumen resmi yang bersangkutan agar informasi mengenai organisasi tersampaikan secara akurat kepada masyarakat.
MOMENTUM BESAR BAGI SUMBA BARAT DAN NTT
Penetapan Gelora Pada Eweta sebagai venue pacuan kuda PON XXII 2028 menjadi peluang strategis bagi Kabupaten Sumba Barat untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah ajang olahraga nasional.
Namun, keberhasilan penyelenggaraan tidak cukup hanya dengan penetapan lokasi. Pembenahan lintasan, peningkatan fasilitas pendukung, kesiapan atlet dan kuda pacu, serta koordinasi antarlembaga harus berjalan seiring.
Pemerintah daerah, pengurus olahraga, pelaku pacuan kuda, dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk memastikan seluruh tahapan persiapan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Jika seluruh rekomendasi teknis dapat ditindaklanjuti dengan baik, penyelenggaraan pacuan kuda PON 2028 di Sumba Barat berpotensi menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Pulau Sumba sebagai salah satu pusat tradisi dan olahraga berkuda di Indonesia.
PON XXII 2028 pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sumba, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan melahirkan atlet-atlet berkuda yang mampu bersaing di tingkat nasional.
JURNAL INVESTIGASI MABES
Profesional, Aktual dan Terpercaya
JT – Tim Jurnal Investigasi Mabes.




