PASAMAN_||
Dalam tempo seratus hari sejak resmi menjabat, duet kepemimpinan Bupati Pasaman Welly Suhery dan Wakil Bupati Parulian Dalimunthe telah menuai berbagai pujian dari masyarakat atas komitmen dan langkah konkret mereka dalam membangun Pasaman ke arah yang lebih baik dan bermartabat.
Kebijakan-kebijakan yang digulirkan dalam waktu singkat ini tak sekadar simbolik, melainkan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat dari berbagai kalangan. Sejak hari pertama menjabat, pasangan ini menunjukkan visi yang jelas: menjadikan Pasaman sebagai daerah yang sejahtera, religius, dan berkeadilan sosial.
Kebijakan Pro-Rakyat dan Berbasis Nilai Religius,Salah satu kebijakan awal yang langsung mencuri perhatian publik adalah imbauan shalat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki. Kebijakan ini disambut hangat oleh masyarakat sebagai upaya membangun nilai-nilai spiritual dan kekompakan sosial. Pemerintah tidak hanya menekankan pembangunan fisik, tetapi juga spiritual masyarakatnya.
Langkah ini dinilai sebagai pendekatan moral yang jarang disentuh dalam kebijakan pemerintahan sebelumnya, menjadikan Pasaman sebagai salah satu daerah pelopor penguatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan publik.
Layanan Ambulans Gratis dan Sekolah Gratis Berlanjut,Tidak berhenti di situ, Welly–Parulian meluncurkan program ambulans gratis yang dapat dimanfaatkan seluruh warga Pasaman tanpa memandang status sosial. Layanan ini dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap layanan kesehatan yang merata dan terjangkau.
Tak kalah penting, komitmen untuk melanjutkan pendidikan gratis tingkat SD hingga SLTA kembali diperkuat. Bahkan, sebanyak 5.000 seragam sekolah dibagikan secara gratis kepada siswa dari keluarga tidak mampu. Ini menjadi langkah konkret untuk meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Reformasi Dunia Pendidikan dan ASN,Bupati dan Wakil Bupati Pasaman juga mengambil kebijakan tegas dalam reformasi dunia pendidikan. Salah satunya adalah larangan penjualan LKS (Lembar Kerja Siswa) di sekolah. Kebijakan ini ditujukan untuk menekan praktik komersialisasi pendidikan yang sering kali memberatkan orang tua siswa.
Selain itu, ada pula pembatasan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah, sebagai upaya menumbuhkan budaya belajar yang sehat, fokus, dan tertib di kalangan siswa.
Bagi aparatur sipil negara (ASN), diterapkan program ASN BANGKIT—singkatan dari BANGga Melayani, BerKomitmen dan BerintegrITas. Program ini bertujuan menanamkan budaya kerja yang profesional, bersih, dan melayani sepenuh hati.
Apresiasi dari Tokoh dan Masyarakat,Langkah-langkah progresif ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Badul, tokoh masyarakat Padang Gelugur yang juga pemerhati pembangunan di Pasaman. Ia menilai apa yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati sudah sejalan dengan visi dan misi mereka sejak masa kampanye.,
“Kami sangat mengapresiasi kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh Bupati dan Wakil Bupati Pasaman dalam 100 hari kerja mereka. Ini bukan sekadar janji politik, tapi telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Badul yang juga merupakan Kabiro salah satu media lokal di Pasaman.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar visi misi yang dijanjikan sudah mulai terlihat realisasinya. Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut mendukung program-program pembangunan demi Pasaman yang lebih maju dan bermartabat.
Harapan untuk Penghargaan Nasional,Dengan berbagai capaian tersebut, banyak pihak berharap agar pemerintah pusat memberi perhatian khusus dan penghargaan atas kinerja luar biasa yang ditunjukkan dalam 100 hari pertama ini. Kebijakan Bupati dan Wakil Bupati Pasaman dinilai patut dijadikan contoh oleh kepala daerah lain dalam menjalankan pemerintahan yang cepat, tepat, dan menyentuh langsung kebutuhan rakyat.
“Semoga kebijakan-kebijakan ini menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain dalam membangun wilayahnya dengan semangat pengabdian dan kejujuran,” pungkas Badul.
Seratus hari bukan waktu yang lama, namun cukup bagi Welly Suhery dan Parulian Dalimunthe untuk menunjukkan arah kepemimpinan mereka. Fokus pada pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan penguatan nilai-nilai religius menjadi fondasi utama dalam menata Pasaman menuju masa depan yang lebih baik.
Dengan semangat kerja nyata dan pendekatan humanis, Pasaman kini menatap masa depan dengan harapan besar. Pasaman bukan hanya daerah di peta, tapi rumah bagi masyarakat yang berhak mendapatkan pemerintahan yang hadir, peduli, dan melayani.
Kutip posmetro/tr32

